Bacaan Sholat 5 Waktu

Agustus 29, 2010 at 3:35 am (Tak Berkategori)

Sholat merupakan sebuah Media (ritual) berkomunikasi antara Mahluk dengan Sang Pencipta Allah Swt. dan dikhususkan juga bagi rekan2 yang mualaf. Sehingga Sholat terdeskripsi tidak hanya dengan menbunyikan Surah atau pun Doa, akan tetapi dengan mengerti, meyakini, berkomunikasi memohon penuh dengan kekhusyukan kepada Tuhan YME Semoga posting ini dapat mengantarkan kita semua ke dalam Ridho Allah Swt. dan lebih serta kurangnya saya mohonkan bimbingan bantuan dari saudara2 sekalian terimakasih.

DOA IFTITAH

ALLAAHU AKBARU KABIIRAA WAL HAMDU LILLAAHI KATSIIRAA WASUBHAANALLAAHI BUKRATAW WAASHIILAA.

Allah Maha Besar, Maha Sempurna Kebesaran-Nya. Segala Puji Bagi Allah, Pujian Yang Sebanyak-Banyaknya. Dan Maha Suci Allah Sepanjang Pagi Dan Petang.

INNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN.

Kuhadapkan Wajahku Kepada Zat Yang Telah Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Penuh Ketulusan Dan Kepasrahan Dan Aku Bukanlah Termasuk Orang-Orang Yang Musyrik.

INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN.

Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.

LAA SYARIIKA LAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN.

Tidak Ada Sekutu Bagi-Nya Dan Dengan Demikianlah Aku Diperintahkan Dan Aku Termasuk Orang-Orang Islam.

AL-FATIHAH

BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

AL HAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN.

Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.

ARRAHMAANIR RAHIIM.

Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

MAALIKIYAUMIDDIIN.

Penguasa Hari Pembalasan.

IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IINU.

Hanya Kepada-Mu lah Aku Menyembah Dan Hanya Kepada-Mu lah Aku Memohon Pertolongan.

IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM.

Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus.

SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADHDHAALLIIN. AAMIIN.

Yaitu Jalannya Orang-Orang Yang Telah Kau Berikan Nikmat, Bukan Jalannya Orang-Orang Yang Kau Murkai Dan Bukan Pula Jalannya Orang-Orang Yang Sesat.

R U K U’

SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x

Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

I’TIDAL

SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.

Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).

RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.

Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

SUJUD

SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x

Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.

DUDUK DIANTARA DUA SUJUD

RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.

Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

TASYAHUD AWAL

ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.

Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.

Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.

Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.

Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.

Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

TASYAHUD AKHIR

ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.

Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.

Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.

Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.

Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal )

WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.

Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.

KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.

Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.

Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.

Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK.

Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Warnet, masihkah bisa bertahan?

April 1, 2010 at 1:51 pm (Komputer)

Perkembangan teknologi informasi semakin pesat,  warnet (warung internet) semakin tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Perkembangan harga komputer desktop dan komputer jinjing atau laptop semakin terjangkau. Medio tahun 2000-an, hingga sekarang warnet (warung internet) mulai menjamur di setiap daerah. Bahkan dalam sepanjang jalan, bisa terdapat 3 sampai 4 warnet. Perkembangan di daerah-daerah terpencilpun sudah mulai dirambah. Bahkan persaingan harga dan kecepatan akses internet menjadi dagangan ampuh para pemilik warnet.

Kini, mereka harus bersiap kehilangan pasarnya. perkembangan teknologi wireless sungguh sangat cepat. Dimulai dengan akses dengan kabel, kini semakin mudah dengan akses tanpa kabel atau cukup dengan modal wireless yang ada di laptop kita. Maka, pilihan-pilihan tempat untuk mengakses internet semakin banyak. Bukan dominasi warnet lagi. Bahkan ruang-ruang publik seperti bandara, stasiun, cafe dan tempat perbelanjaan sudah menyediakan akses internet atau hotspot.

Ini juga dibarengi dengan pertumbuhan modem (alat semacam untuk mengakses internet menggunkan kartu provider baik prabayar atau pasca bayar) yang semakin beragam. Bahkan banyak sekali penawaran paket akses internet yang dilakukan oleh provider-provider telekomunikasi untuk mempermudah masyarakat.

Maka, masyarakat yang membutuhkan akses internet, tidak perlu lagi ke warnet karena sudah cukup banyak cara untuk mengakses internet baik dengan HP ataupun dengan laptop sendiri dengan mencari wireless yang tersedia tersebar diruang-ruang publik. atau cukup menggunakan modem untuk mengakses internet.

Inilah perkembangan tekhnologi sekarang yang cukup cepat dan memudahkan masyarakat. maka kita perlu terus melakukan inovasi agar warnet (warung internet) tidak hilang tergerus zaman tekhnologi seperti wartel dan telepon umum yang mulai hilang.

Mari kita cerdaskan masyarakat dengan informasi dan tekhnologi yang bermanfaat dan memberikan wawasan yang luas.

http://tekno.kompas.com/read/xml/2010/04/01/19174464/Apakah.Warnet.Akan.Senasib.Wartel

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Operasional Prosedur Waitress

Februari 17, 2010 at 4:43 am (Tugas)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Perkembangan dunia pariwisata saat ini menunjukan kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan tersebut tentunya banyak faktor yang mendukungnya, diantaranya ditunjukan oleh sarana dan prasarana yang memadai guna membantu perkembangan yang ada, pariwisata Indonesia berkembang tentu memerlukan sumber daya manusiayang handal, karena pada dasarnya faktor tersebut sangat berperan didalam mengembangkan usaha pariwisata yang ada.

Usaha-usaha pariwisata yang bergerak didalam bidang jasa Indonesia banyak sekali ragamnya, diantaranya: Hotel, Trevel Agent, Rumah Sakit, Bengkel, Restaurant, salon dan lain-lain. Usaha ini perlu pengelolaan yang maksimal sehingga akhirnya dapat menghasilkan sumber daya devisa yang dapat membantu lembahnya perekonomian negara kita saat ini.

Meningkatnya dunia usaha periwisata di Indonesia khususnya usaha perhotelan, hal ini membawa keberuntungan kepada peningkatan perekonomian yang ada, karena didalamnya menampung banyak sumber daya manusia yag pada hakikatnya mengurangi pengangguran yang ada.

Usaha perhotelan didalamnya terdiri dari beberapa departemen yaitu, diantaranya: Front Office, Food and Beverage, Accounting, Engineering, dan lain-lain.

Untuk itu penulis akan menyampaikan topik laporan dengan judul “Standar Operasional Prosedur Waitress di Hotel Pesona Bamboe”

1.2 Rumusan masalah

Dalam menyusun laporan penulis perlu mengidentifikasi masalah agar keluar tidak dari jalur permasalah yang akan dibahas. Idetifiksi dari permasalahan adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana gambaran umum hotel menurut para ahli?
  2. Bagaimana gambaran umum hotel Pesona Bamboe?
  3. Bagaimana Standar Operasional Proseduer waitrees dihotel Pesona Bamboe dan perasalahan?
  4. Bagaimana penangan masalah yang dihadapi wairees di hotel Pesona Bamboe?

1.3 Maksud dan Tujuan

1.3.1 Maksud

  1. Penulis ingin mengetahui bagaimana gambaran umum hotel menurut para ahli.
  2. Penulis ingin mengetahui bagaimana gambaran hotel Pesona Bamboe.
  3. Penulis ingin mengetahui bagaimana Standar Operasional Prosedur waitress di hotel Pesoa Bamboe.
  4. Penulis ingin mengetahui bagaimana penanganan masalah yang dihadapi waitress di hotel Pesona Bamboe.

1.3.2 Tujuan

  1. Sebagai salah satu syarat mengikui Ujian Nasional dan menyelesaikan study pendidikan di SMK Bina Wisata.
  2. Menerapkan semua teori dan praktek yang dihadapi disekolah dengan kegiatan secara nyata di hotel.
  3. Menambah pengetahuan dan pengalaman.

1.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian untuk mengolah data yang diperoleh, penulis menggunakan metode Deskriptip untuk mendapatkan gambaran tentang situasi dan kondisi yang ada pada pengumpulan datanya. Penulis menggunakan beberapa teknik sebagai berikut:

1.4.1 Observasi

Waktu penulis melakukan terjun langsung dengan cara Praktek Kerja Lapangan di Food and Beverage Service selama kurang lebih 3 bulan sebagai waitress Room Service di Hotel Pesona Bamboe, dan 3 bulan kemudian di tempatkan di House kepping sebagai Room Maid.

1.4.2 Interview

Penulis mengadakan wawancara langsung dengan karyawan hotel terutama bagian Coffe Shop.

1.4.3 Study Literatur

Yaitu penulis membaca dan mencari langsung dari internet yang berhubungan dengan masalah perhotelan, khususnya masalah Food Beverage.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kitab-Kitab Suci

Februari 17, 2010 at 3:41 am (Tugas)

Kitab Allāh

(Arab: كتاب الله, Kitabullah) adalah catatan yang difirmankan oleh Tuhan kepada para nabi dan rasul. Umat Islam diwajibkan meyakininya, karena mempercayai kitab-kitab selain Al Qur’an sesuai dengan salah satu Rukun Iman. Dalam firman Allah ayat Al Imraan 3 ayat 4: “ Sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan.[1] Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). ” —(Al Imran 3:4) Kemudian An Nissa 4 ayat 136 dan 163: “ Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. ” —(An Nissa 4:136) “ Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. ” —(An Nissa 4:163)

Tulisan

Tulisan-tulisan firman Allah zaman dahulu dibuat menjadi 2 jenis, yaitu bisa berupa shuhuf (lembaran kecil) dan mushaf. Kata Suhuf pula terdapat di surah al A’laa “ (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. ” —(al A’laa 87:19) Kedua kalimat itu berasal dari akar kalimat yang sama Sahafa “Menulis”. Shuhuf (tunggal: sahifa) berarti sepenggal kalimat yang ditulis dalam material seperti kertas, kulit, papirus dan lain-lain. Mushaf (jamak: masahif) berarti kumpulan shuhuf, yang dibundel menjadi satu.[2]

Shuhuf

Beberapa nabi yang memiliki shuhuf adalah:

• Adam – 10 shuhuf

• Syits – 60 shuhuf

• Idris – 30 shuhuf

• Ibrahim – 30 shuhuf

• Musa – 10 shuhuf

Untuk shuhuf Ibrahim dan Musa tercantum didalam firman Tuhan, surah Al A’la dan An Najm, yang berbunyi; “ Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. ” —(Al A’la : 14-19) “ Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? ” —(An Najm : 36-37) Mushaf Taurat (Torah) Taurat adalah tulisan berbahasa Ibrani, berisikan syariat (hukum) dan kepercayaan yang benar dan diturunkan melalui Musa. Isi pokok Taurat adalah 10 firman Allah bagi bangsa Israel. Selain itu, Taurat berisikan tentang sejarah nabi-nabi terdahulu hingga Musa dan kumpulan hukum. “ (Tuhan Allah) telah menurunkan kitab kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang terdahulu dari padanya, lagi menurunkan Taurat dan Injil. ” —(Ali Imran: 3)

Taurat

Kitab Taurat atau Torah dalam bahasa Ibrani adalah lima kitab pertama Tanakh atau Alkitab Perjanjian Lama. Kitab Taurat dalam bahasa Yunani disebut Pentateukh. Kelima kitab ini adalah:

• Kejadian, bahasa Latin: Genesis, bahasa Ibrani: beresyit (בראשית),

• Keluaran, bahasa Latin: Exodus, bahasa Ibrani syemot (שמות),

• Imamat, bahasa Latin: Leviticus, bahasa Ibrani wayyikra (ויקרא),

• Bilangan, bahasa Latin: Numerii, bahasa Ibrani bemidbar (במדבר) dan

• Ulangan, bahasa Latin: Deuteronomium, bahasa Ibrani debarim (דברים).

Nama-nama Latin berasal dari Septuaginta. Kelima buku pertama ini dianggap penting karena kelima buku ini memuat peraturan-peraturan yang dipercayai ditulis oleh Musa. Menurut tradisi kitab Taurat ditulis oleh nabi Musa, sedang kematiannya yang tercatat pada Kitab Ulangan pasal 34 dituliskan oleh penerusnya, Yosua.[rujukan?] Contoh serupa adalah kitab Yeremia, yang pada akhirnya di kitab tersebut dituliskan “sampai di sinilah perkataan-perkataan Yeremia” (Yeremia 51:64) namun kitab tersebut masih dilanjutkan (kebanyakan berisi sejarah dan kejadian yang terjadi setelah perkataan Yeremia berakhir). Kata Taurat sendiri sebenarnya berarti pengajaran oleh Allah. Kata ini diterapkan kepada Kesepuluh Hukum (Dasa Titah), kemudian pada segala hukum dan peraturan dari Tuhan. Orang Samaria mengakui kelima kitab Taurat ini sebagai kitab suci mereka, namun mereka menolak kitab-kitab lainnya yang terdapat di dalam Perjanjian Lama

Zabur (Mazmur)

Zabur berisi mazmur (nyanyian pujian bagi Allah) yang dibawakan melalui Daud yang berbahasa Qibti. Kitab ini tidak mengandung syariat, karena Daud diperintahkan untuk meneruskan syariat yang telah dibawa oleh Musa. “ Dan kami telah memberi kitab zabur kepada Nabi Dawud. ” —(An-Nisa; 163) Zabur (bahasa Arab: زبور) disamakan oleh sebagian ulama dengan Mazmur, yang menurut Islam, adalah salah satu kitab suci yang diturunkan sebelum Al-Qur’an (selain Taurat dan Injil). Istilah zabur adalah persamaan dengan istilah Ibrani zimra, bermaksud “lagu, musik.” Ia, bersama dengan zamir (“lagu”) dan mizmor (“mazmur” atau psalm), merupakan derivasi zamar, artinya “nyanyi, nyannyikan pujian, buatkan musik.” Umat Muslim percaya bahwa zabur adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada kaum Bani Israil melalui utusannya yang bernama Nabi Daud. Zabur menurut hadits Satu hadits dari sahih Bukhari, mengatakan: Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda, “Pembacaan Zabur dimudahkan bagi Daud. Dia sering mengarahkan agar binatang tunggangannya diletakkan pelana, dan mampu menghabiskan bacaan Zabur sebelum pelana siap diletakkan. Dan dia tidak akan makan tetapi hasil dari kerjanya sendiri.”

Injil

Injil pertama kali ditulis menggunakan bahasa Suryani melalui murid-murid Isa untuk bangsa Israel sebagai penggenap ajaran Musa. Kata Injil sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu euangelion yang berarti “kabar gembira”. Injil-injil tidak mempunyai pembahasan sistematis mengenai satu tema atau tema-tema tertentu,[3] meskipun di dalamnya banyak membahas hal kerajaan Surga. Injil yang ada saat ini mengandung firman Allah dan riwayat Isa, yang semuanya ditulis oleh generasi setelah Isa. “ Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan ‘Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. ” —(Al-Maa`idah 5:46) Injil (Yunani: ευαγγέλιον/euangelion – “kabar baik” atau “berita baik” atau “berita suka cita”) adalah istilah yang digunakan untuk menyebut keempat kitab pertama dalam Alkitab Perjanjian Baru. Kitab-kitab tersebut adalah: Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes. Kata injil sendiri berasal dari bahasa Arab.

Arti injil

Injil biasanya mengandung arti:

1. Pemberitaan tentang aktivitas penyelamatan Allah di dalam Yesus dari Nazaret atau berita yang disampaikan oleh Yesus dari Nazaret. Inilah asal-usul penggunaan kata “Injil” menurut Perjanjian Baru (lihat Surat Roma 1:1 atau Markus 1:1).

2. Dalam pengertian yang lebih populer, kata ini merujuk kepada keempat Injil kanonik (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) dan kadang-kadang juga karya-karya lainnya yang non-kanonik (mis. Injil Tomas), yang menyampaikan kisah kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus.

3. Sejumlah sarjana modern menggunakan istilah “Injil” untuk menunjuk kepada sebuah genre hipotetis dari sastra Kristen perdana (bdk. Peter Stuhlmacher, ed., Das Evangelium und die Evangelien, Tübingen 1983, juga dalam bahasa Inggris: The Gospel and the Gospels). Kata “injil” dipergunakan oleh Paulus sebelum kitab-kitab Injil dari kanon Perjanjian Baru ditulis, ketika ia mengingatkan orang-orang Kristen di Korintus “kepada Injil yang aku beritakan kepadamu” (1 Korintus 15:1). Melalui berita itu, Paul menegaskan, mereka diselamatkan, dan ia menggambarkannya di dalam pengertian yang paling sederhana, sambil menekankan penampakan Kristus setelah kebangkitan (15:3-8): “… bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.” Penggunaan kata injil (atau ekuivalennya dalam bahasa Yunani evangelion) untuk merujuk pada suatu genre tulisan yang khas yang berasal dari abad ke-2. Kata ini jelas digunakan untuk menunjuk suatu genre dalam Yustinus Martir (l.k. 155) dan dalam pengertian yang lebih kabur sebelumnya dalam Ignatius dari Antiokhia (l.k. 117).

Penulisan Injil

Beberapa catatan :

1. Kitab Perjanjian Baru terbit antara tahun 50 dan 100 Masehi. Yang mula-mula adalah Surat-surat Paulus, kemudian barulah bagian-bagian lain. Beberapa abad sesudah Masehi, Gereja baru mensahkan kanon Kitab Perjanjian Baru setelah urutannya diubah dan sedapat mungkin disesuaikan dengan Sejarah Keselamatan (Intisari Iman Kristen oleh Ds.B.J. Boland, 1964).

2. Umumnya boleh dikatakan bahwa kanon Perjanjian Baru sudah ditetapkan kira-kira pada tahun 200, secara definitif pada tahun 380 (Sejarah Gereja oleh Dr. H. Berkhof dan Dr.I.H. Enklaar, 1962).

3. De Arameesche tekst van het Mattheus-evengelie is reeds vroegtijdig gegaan. De andrere drie evangelien, zijn in het Grieksch geschreven. De boeken van de Heilige Schrift, zelfs de evengelien, zijn niet volkomen in de zelfds toestand bewaard gebleven, waarin zijoorspronkelijk zijn geschreven. Daar de boekdrukkeenst niet bestond, warden zij eeuwen long telkens overgeschreven en hijdat overschrijoen werden soms woorden uitgelaten, verwisseld of verkeerd geschreven … Artinya : Injil Matius yang berbahasa Arami telah lama hilang. Tiga Injil lainnya ditulis dalam bahasa Yunani. Buku-buku dari Kitab Suci juga injil-injilnya tidak tersimpan dengan sempurna dalam keadaan yang sama, dalam mana itu asalnya ditulis. Karena tidak adanya cetak-mencetak buku maka seringkali dilakukan pemindahtulisan berabad-abad lamanya, dan dalam memindahtuliskan itu kadang-kadang terjadi penghapusan kata-kata, penukaran kata-kata atau penulisan terbalik … (Het Evangelie, 1929, Badan Perpustakaan Petrus Canisius)

Injil kanonik

Dari banyak injil yang ditulis, ada empat injil yang diterima sebagai bagian dari Perjanjian Baru dan dikanonkan. Hal ini merupakan tema utama dalam sebuah tulisan oleh Irenaeus, l.k. 185. Dalam tulisannya yang diberi judul “Melawan Kesesatan” Irenaeus menentang beberapa kelompok Kristen yang menggunakan hanya satu Injil saja, seperti kelompok Marsion – yang menggunakan versi Injil Lukas yang sudah diubah sedemikian rupa. Irenaeus juga menentang beberapa kelompok yang menekankan tulisan-tulisan berisi wahyu-wahyu baru, seperti kelompok Valentinius (A.H. 1.11.9). Irenaeus menyatakan bahwa ada empat injil yang adalah tiang-tiang gereja. “tak mungkin ada lebih atau kurang daripada empat,” katanya, sambil mengajukan analogi sebagai logikanya bahwa ada empat penjuru dunia dan empat arah angin (1.11.8). Citranya ini, yang diambil dari Kitab Yehezkiel 1:10, tentang takhta Allah yang didukung oleh empat makhluk dengan empat wajah—”Keempatnya mempunyai muka manusia di depan, muka singa di sebelah kanan, muka lembu di sebelah kiri, dan muka rajawali di belakang”— ekuivalen dengan Injil yang “berwajah empat”, adalah lambang-lambang konvensional dari para penulis Injil: singa, lembu, rajawali, dan manusia. Irenaeus berhasil menyatakan bahwa keempat Injil itu bersama-sama, dan hanya keempat Injil inilah, yang mengandung kebenaran. Dengan membaca masing-masing Injil di dalam terang yang lainnya, Irenaeus menjadikan Yohanes sebagai lensa untuk membaca Matius, Markus dan Lukas. Pada peralihan abad ke-5, Gereja Barat di bawah Paus Inosensius I, mengakui sebuah kanon Alkitab yang meliputi keempat Injil yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, yang sebelumnya telah ditetapkan pada sejumlah Sinode regional, yaitu Konsili Roma (382), Sinode Hippo (393), dan dua Sinode Karthago (397 dan 419).[1] Kanon ini, yang sesuai dengan kanon Katolik modern, digunakan dalam Vulgata, sebuah terjemahan Alkitab dari awal abad ke-5 yang dikerjakan oleh Hieronimus[2] atas permintaan Paus Damasus I pada 382. Perkiraan kurun waktu ditulisnya injil bervariasi. Berikut perkiraan kurun waktu yang diberikan oleh Raymond E. Brown, dalam buku-nya “An Introduction to the New Testament”, sebagai representasi atas konsensus umum para sarjana, pada tahun 1996:

• Markus: l.k. 68-73

• Matius: l.k. 70-100

• Lukas: l.k. 80-100

• Yohanes: 90-110

Sedangkan, perkiraan kurun waktu yang diberikan dalam NIV Study Bible:

• Markus: l.k. tahun 50-an hingga awal 60-an, atau akhir 60-an

• Matius: l.k. tahun 50-70-an

• Lukas: l.k. tahun 59-63, atau tahun 70-an hingga 80-an

• Yohanes: l.k. tahun 85 hingga mendekati 100, atau tahun 50-an hingga 70

Injil Apokrif

Beberapa injil yang tidak dikanonkan meskipun mempunyai keserupaan dalam hal sebagian isi dan gaya bahasa, dibandingkan dengan injil-injil kanonik. Kebanyakan (yang lainnya) adalah gnostik dalam hal isi dan gaya bahasa, mempresentasikan / mengemukakan ajaran-ajaran dari sudut pandang yang sangat berbeda dan dalam beberapa kasus dicap sebagai bid’ah.

Al-Qur`an

Al-Qur`an merupakan kumpulan firman yang diberikan Allah sebagai satu kesatuan kitab sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat muslim. Menurut syariat Islam, kitab ini dinyatakan sebagai kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, selalu terjaga dari kesalahan, dan merupakan tuntunan membentuk ketaqwaan manusia. “ Pada bulan Ramadhan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. ” —(Al-Baqarah: 185) Tampilan Al-Qur`an dianggap unik, karena berupa prosa berirama, puisi epik, dan simfoni dalam keterpaduan teks yang indah. Isi Al-Qur`an juga dianggap unik, berupa paduan filsafat semesta, catatan sejarah, peringatan-peringatan dan hiburan, dasar-dasar hukum, serta doa-doa. Bagi umat Islam, tidak disyariatkan untuk mempelajari isi Taurat, Zabur, dan Injil yang ada saat ini, karena menurut ajaran Islam, dianggap telah mengandung berbagai tafsiran yang tidak benar[4] dan karena isi kesemua kitab yang masih diperlukan, telah dimasukkan ke dalam kitab Al-Qur`an. Namun tidak diperlukan juga upaya untuk menyerang atau menyalah-nyalahkan isi Taurat, Zabur, atau Injil, karena terdapat ayat-ayat Allah di dalamnya. Al-Qur’ān (ejaan KBBI: Alquran, Arab: القرآن) adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam memercayai bahwa Al-Qur’an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril.

Etimologi

Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti “bacaan” atau “sesuatu yang dibaca berulang-ulang”. Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara’a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur’an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti {amalkan} bacaannya”.(75:17-75:18)

Terminologi

Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”. Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Al-Qur’an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas” Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa AS. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an.

Jaminan Tentang Kemurnian Al-Quran dan Bukti-Buktinya

Kemurnian Kitab Al-Quran ini dijamin langsung oleh Allah, yaitu Dzat yang menciptakan dan menurunkan Al-Quran itu sendiri. Dan pada kenyataannya kita bisa melihat, satu-satu kitab yang mudah dipelajari bahkan sampai dihafal oleh beribu-ribu umat Islam.

Nama-nama lain Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk kepada Al-Qur’an itu sendiri. Berikut adalah nama-nama tersebut dan ayat yang mencantumkannya:

• Al-Kitab, QS(2:2),QS (44:2)

• Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1)

• Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9)

• Al-Mau’idhah (pelajaran/nasehat): QS(10:57)

• Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37)

• Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39)

• Asy-Syifa’ (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82)

• Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33)

• At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192) Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77)

• Ar-Ruh (ruh): QS(42:52)

• Al-Bayan (penerang): QS(3:138)

• Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6)

• Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102)

• An-Nur (cahaya): QS(4:174) • Al-Basha’ir (pedoman): QS(45:20)

• Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52)

• Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)

Struktur dan pembagian Al-Qur’an

Surat, ayat dan ruku’

Al-Qur’an terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surah (surat). Setiap surat akan terdiri atas beberapa ayat, di mana surat terpanjang dengan 286 ayat adalah surat Al Baqarah dan yang terpendek hanya memiliki 3 ayat yakni surat Al Kautsar, An-Nasr dan Al-‘Așr. Surat-surat yang panjang terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku’ yang membahas tema atau topik tertentu.

Makkiyah dan Madaniyah

Sedangkan menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi atas surat-surat Makkiyah (surat Mekkah) dan Madaniyah (surat Madinah). Pembagian ini berdasarkan tempat dan waktu penurunan surat dan ayat tertentu di mana surat-surat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat Makkiyah sedangkan setelahnya tergolong surat Madaniyah. Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah ini lebih tepat, sebab ada surat Madaniyah yang turun di Mekkah.

Juz dan manzil

Dalam skema pembagian lain, Al-Qur’an juga terbagi menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang ingin menuntaskan bacaan Al-Qur’an dalam 30 hari (satu bulan). Pembagian lain yakni manzil memecah Al-Qur’an menjadi 7 bagian dengan tujuan penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu). Kedua jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu.

Menurut ukuran surat

Kemudian dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada didalam Al-Qur’an terbagi menjadi empat bagian, yaitu:

• As Sab’uththiwaal (tujuh surat yang panjang). Yaitu Surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa’, Al-A’raaf, Al-An’aam, Al Maa-idah dan Yunus

• Al Miuun (seratus ayat lebih), seperti Hud, Yusuf, Mu’min dan sebagainya

• Al Matsaani (kurang sedikit dari seratus ayat), seperti Al-Anfaal, Al-Hijr dan sebagainya

• Al Mufashshal (surat-surat pendek), seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan sebagainya

Sejarah Al-Qur’an hingga berbentuk mushaf

Penurunan Al-Qur’an

Al-Qur’an tidak turun sekaligus. Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Oleh para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.

Penulisan Al-Qur’an dan perkembangannya

Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan.

Pengumpulan Al-Qur’an di masa Rasullulah SAW

Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur’an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.

Pengumpulan Al-Qur’an di masa Khulafaur Rasyidin

Pada masa pemerintahan Abu Bakar

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur’an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur’an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad SAW.

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan

Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur’an (qira’at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an. Mengutip hadist riwayat Ibnu Abi Dawud dalam Al-Mashahif, dengan sanad yang shahih: Suwaid bin Ghaflah berkata, “Ali mengatakan: Katakanlah segala yang baik tentang Utsman. Demi Allah, apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Al Qur’an sudah atas persetujuan kami. Utsman berkata, ‘Bagaimana pendapatmu tentang isu qira’at ini? Saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qira’atnya lebih baik dari qira’at orang lain. Ini hampir menjadi suatu kekufuran’. Kami berkata, ‘Bagaimana pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Aku berpendapat agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.’ Kami berkata, ‘Pendapatmu sangat baik’.” Menurut Syaikh Manna’ Al-Qaththan dalam Mahabits fi ‘Ulum Al Qur’an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat. Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al Qur’an turun dalam dialek bahasa mereka. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah (mushaf al-Imam).

Upaya penerjemahan dan penafsiran Al Qur’an

Upaya-upaya untuk mengetahui isi dan maksud Al Qur’an telah menghasilkan proses penerjemahan (literal) dan penafsiran (lebih dalam, mengupas makna) dalam berbagai bahasa. Namun demikian hasil usaha tersebut dianggap sebatas usaha manusia dan bukan usaha untuk menduplikasi atau menggantikan teks yang asli dalam bahasa Arab. Kedudukan terjemahan dan tafsir yang dihasilkan tidak sama dengan Al-Qur’an itu sendiri.

Terjemahan

Terjemahan Al-Qur’an adalah hasil usaha penerjemahan secara literal teks Al-Qur’an yang tidak dibarengi dengan usaha interpretasi lebih jauh. Terjemahan secara literal tidak boleh dianggap sebagai arti sesungguhnya dari Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an menggunakan suatu lafazh dengan berbagai gaya dan untuk suatu maksud yang bervariasi; terkadang untuk arti hakiki, terkadang pula untuk arti majazi (kiasan) atau arti dan maksud lainnya. Terjemahan dalam bahasa Indonesia di antaranya dilaksanakan oleh:

1. Al-Qur’an dan Terjemahannya, oleh Departemen Agama Republik Indonesia, ada dua edisi revisi, yaitu tahun 1989 dan 2002

2. Terjemah Al-Qur’an, oleh Prof. Mahmud Yunus

3. An-Nur, oleh Prof. T.M. Hasbi Ash-Siddieqy

4. Al-Furqan, oleh A.Hassan guru PERSIS

Terjemahan dalam bahasa Inggris

1. The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary, oleh Abdullah Yusuf Ali The Meaning of the Holy Qur’an, oleh Marmaduke Pickthall

Terjemahan dalam bahasa daerah Indonesia di antaranya dilaksanakan oleh:

1. Qur’an Kejawen (bahasa Jawa), oleh Kemajuan Islam Jogyakarta

2. Qur’an Suadawiah (bahasa Sunda)

3. Qur’an bahasa Sunda oleh K.H. Qomaruddien

4. Al-Ibriz (bahasa Jawa), oleh K. Bisyri Mustafa Rembang

5. Al-Qur’an Suci Basa Jawi (bahasa Jawa), oleh Prof. K.H.R. Muhamad Adnan

6. Al-Amin (bahasa Sunda)

Tafsir

Upaya penafsiran Al-Qur’an telah berkembang sejak semasa hidupnya Nabi Muhammad, saat itu para sahabat tinggal menanyakan kepada sang Nabi jika memerlukan penjelasan atas ayat tertentu. Kemudian setelah wafatnya Nabi Muhammad hingga saat ini usaha menggali lebih dalam ayat-ayat Al-Qur’an terus berlanjut. Pendekatan (metodologi) yang digunakan juga beragam, mulai dari metode analitik, tematik, hingga perbandingan antar ayat. Corak yang dihasilkan juga beragam, terdapat tafsir dengan corak sastra-bahasa, sastra-budaya, filsafat dan teologis bahkan corak ilmiah.

Adab Terhadap Al-Qur’an

Sebelum menyentuh sebuah mushaf Al-Qur’an, seorang Muslim dianjurkan untuk menyucikan dirinya terlebih dahulu dengan berwudhu. Hal ini berdasarkan tradisi dan interpretasi secara literal dari surat Al Waaqi’ah ayat 77 hingga 79. Terjemahannya antara lain:56-77. Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, 56-78. pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), 56-79. tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (56:77-56:79) Penghormatan terhadap teks tertulis Al-Qur’an adalah salah satu unsur penting kepercayaan bagi sebagian besar Muslim. Mereka memercayai bahwa penghinaan secara sengaja terhadap Al Qur’an adalah sebuah bentuk penghinaan serius terhadap sesuatu yang suci. Berdasarkan hukum pada beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim, hukuman untuk hal ini dapat berupa penjara kurungan dalam waktu yang lama dan bahkan ada yang menerapkan hukuman mati.

Hubungan dengan kitab-kitab lain

Berkaitan dengan adanya kitab-kitab yang dipercayai diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW dalam agama Islam (Taurat, Zabur, Injil, lembaran Ibrahim), Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menegaskan posisinya terhadap kitab-kitab tersebut. Berikut adalah pernyataan Al-Qur’an yang tentunya menjadi doktrin bagi ummat Islam mengenai hubungan Al-Qur’an dengan kitab-kitab tersebut:

• Bahwa Al-Qur’an menuntut kepercayaan ummat Islam terhadap eksistensi kitab-kitab tersebut. QS(2:4)

• Bahwa Al-Qur’an diposisikan sebagai pembenar dan batu ujian (verifikator) bagi kitab-kitab sebelumnya. QS(5:48)

• Bahwa Al-Qur’an menjadi referensi untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara ummat-ummat rasul yang berbeda. QS(16:63-64)

• Bahwa Al-Qur’an meluruskan sejarah. Dalam Al-Qur’an terdapat cerita-cerita mengenai kaum dari rasul-rasul terdahulu, juga mengenai beberapa bagian mengenai kehidupan para rasul tersebut. Cerita tersebut pada beberapa aspek penting berbeda dengan versi yang terdapat pada teks-teks lain yang dimiliki baik oleh Yahudi dan Kristen.

Kitab turun pada bulan Ramadhan

Menurut sumber berdasarkan hadits shahih dari Imam Ahmad, kesemua kitab-kitab suci tersebut turun pada bulan Ramadhan, shuhuf Ibrahim turun pada awal malam pertama bulan Ramadhan, Taurat turun pada hari keenam bulan Ramadhan dan Injil pada hari ketiga belas dari Ramadhan.[5] Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan berdasarkan pada salah satu surah didalam Al Qur’an yang berbunyi, “ Bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu, serta pemisah antara haq dan batil. ” —(Al Baqarah 2:185) Ibnu Katsir mengatakan bahwa Allah menyanjung bulan Ramadhan diatas bulan-bulan yang lain, yaitu dengan memilihnya sebagai bulan dimana kesemua kitab-kitab suci diturunkan di dalamnya.

Janji Allah terhadap orang beriman

Menurut keyakinan ajaran Islam, Allah akan melimpahkan rahmat-Nya dari langit dengan menurunkan hujan dan menimbulkan rahmat-Nya dari bumi dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang buahnya melimpah ruah, kepada orang yang jujur, lurus dan tidak menyimpang dari kebenaran. Sebagai contoh dalam ayat: “ Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka. ” —(Al Maidah 66:5)

Hubungan Al-Qur’an dengan kitab terdahulu

Semua muslim meyakini bahwa adanya wahyu progresif, bahwa wahyu Tuhan berkembang dengan seiring berjalannya waktu dan perbedaan kelompok dari masyarakat. Didalam Al Quran membenarkan tentang adanya larangan bekerja di hari Sabbath dalam Taurat, tetapi Al Quran membolehkan bekerja dan mengesampingkan hal tersebut. Diawal tahun kenabian Muhammad, sebuah wahyu diberitakan kepadanya, “ Katakanlah: Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu… ” —(Al Maidah 5:68) Kalimat ini diyakini oleh pemeluk agama Islam bahwa konversi agama lama menjadi agama Islam akan dimulai dengan segala ketulusan hati mengikuti firman dari kita-kitab suci sebelum Al Quran.

VEDA (Weda)

Sansekerta kata Veda “pengetahuan, hikmat” berasal dari akar vid-“mengetahui”. [ 11 ] Ini direkonstruksi sebagai turunan dari Proto-Indo-Eropa * u̯eid-root, yang berarti “melihat” atau “tahu”. [11] Sebagai kata benda, kata muncul hanya dalam satu contoh dalam Rgveda, di RV 8 .19.5, diterjemahkan oleh Griffith sebagai “ritual pengetahuan”: yáḥ samídhā yá âhutī / yó védena dadâśa márto agnáye / yó námasā svadhvaráḥ yah samídhā ya âhutī / yo védena dadâśa Marto agnáye / yo námasā svadhvaráḥ “Para fana yang telah melayani Agni dengan persembahan pd Tuhan, bahan bakar, ritual adat istiadat, dan hormat, terampil dalam pengorbanan.” ] Geldner terjemahan dari bagian yang sama telah Wissen, “pengetahuan”. Kata benda adalah dari Proto-Indo-Eropa * u̯eidos, seasal ke Yunani (ϝ) εἶδος “aspek”, “bentuk”Tidak menjadi bingung adalah homonymous orang 1 dan 3 perfect tense tunggal Veda, seasal ke Yunani (ϝ) οἶδα (w) oida “Aku tahu Root sanak adalah Yunani ἰδέα, Inggris wit, dll, Latin video “Aku lihat”, dll [13] Dalam bahasa Inggris, istilah Veda ini kebanyakan digunakan untuk merujuk pada Samhitas (koleksi mantra, atau nyanyian) dari empat kanonik Veda (Rigveda, Yajurveda, Samaveda dan Atharvaveda). Istilah Sansekerta veda sebagai kata benda umum berarti “pengetahuan”, tetapi juga dapat digunakan untuk merujuk pada bidang studi tidak berkaitan dengan liturgi atau ritual, misalnya dalam agada-veda “ilmu medis”, Sasya-veda “ilmu pertanian” atau sarpa -veda “ilmu ular” (sudah ditemukan pada awal Upanishad); durveda berarti “dengan pengetahuan yang jahat, bodoh”. [14]

Kategori dari teks-teks Weda

Istilah “teks-teks Weda” digunakan dalam dua arti yang berbeda:

1. teks ditulis dalam Bahasa Weda selama periode Weda (Zaman Besi India)

2. [ 19 ] teks apapun dianggap sebagai “yang terhubung ke Veda” atau “wajar dari Veda” [19]

Bahasa Weda korpus

Korpus Bahasa Weda teks mencakup: • The Samhita (Samhita Sansekerta, “koleksi”), adalah koleksi teks metrik ( “mantra”). Ada empat “Veda” Samhitas: the Rig-Veda, Sama-Veda, Yajur-Veda, dan Atharva-Veda, yang kebanyakan tersedia dalam beberapa recensions (Sakha). In. Dalam beberapa konteks, istilah Veda digunakan untuk merujuk kepada Samhitas ini Ini adalah lapisan tertua teks-teks Weda, selain dari Rigvedic himne, yang mungkin dasarnya lengkap oleh 1200 SM, berasal ca. the 12th to 10th centuries BC. ke-12 ke abad 10 SM. Kumpulan lengkap Weda mantra sebagai dikumpulkan dalam Bloomfield ‘s Vedic Concordance (1907) terdiri dari beberapa 89.000 padas (metrik kaki), di antaranya 72.000 terjadi di empat Samhitas. [20] • Para Brahmanas adalah teks prosa yang membahas, dalam mode teknis, ritual pengorbanan yang khidmat serta mengomentari makna dan banyak terhubung tema Setiap Brahmanas dikaitkan dengan salah satu Samhitas atau recensions.. Brahmanas mungkin baik yang berupa teks terpisah atau sebagian dapat diintegrasikan ke dalam teks Samhitas. Mereka mungkin juga termasuk Aranyakas dan Upanishad. • The Aranyakas, “belantara teks” atau “perjanjian hutan”, yang disusun oleh orang-orang yang bermeditasi di hutan sebagai recluses dan merupakan bagian ketiga dari Veda. Berisi teks diskusi dan interpretasi ritual berbahaya (yang akan dipelajari di luar pemukiman) dan berbagai macam bahan tambahan. It is frequently read in secondary literature. Hal ini sering dibaca dalam literatur sekunder. • beberapa yang lebih tua Mukhya Upanishad (Bṛhadāraṇyaka, Chāndogya, katha). [21] [22] • . tertentu Hanuman Chalisa sastra, yaitu Shrautasutras dan Grhyasutras. Sansekerta Veda korpus adalah cakupan A Vedic Concordance Word (Vaidika-Padānukrama-Kosa) disiapkan dari tahun 1930 di bawah vishva Bandhu, dan diterbitkan dalam lima jilid pada 1935-1965.. Memperluas jangkauannya ke sekitar 400 teks, termasuk seluruh korpus Bahasa Weda selain beberapa “sub-Veda” teks.

Volume I: Samhitas

Volume II: Brahmanas dan Aranyakas

Volume III: Upanisad

Volume IV: Vedangas ,

memperpanjang menjadi sekitar 1.800 halaman, diterbitkan pada tahun 1973-1976.

The Four Veda [ 30 ]

Pembagian kanonik Veda adalah empat kali lipat (turīya) yaitu., [30]

1. Rgveda (RV)

2. Yajurveda (YV, dengan divisi utama TS vs VS)

3. Sama-Veda (SV)

4. Atharva-Veda (AV)

Rgveda [ 35 ]

The Rgveda Samhita adalah tertua yang masih ada Indic teks. [33] Ini adalah koleksi 1.028 Bahasa Weda himne dan 10.600 ayat dalam semua, disusun dalam sepuluh buku (Sansekerta: mandalas). [34] Para himne berdedikasi untuk Rigvedic dewa. [ 35] Buku-buku itu disusun oleh para penyair dari kelompok-kelompok imam yang berbeda selama beberapa abad, biasanya tanggal untuk periode kira-kira paruh kedua milenium ke-2 SM (awal periode Veda) di Punjab (Sapta Sindhu) wilayah benua India . [36] . Ada kuat kemiripan linguistik dan budaya antara Rgweda dan Iran awal Avesta, berasal dari Proto-Indo-Iran kali, sering dikaitkan dengan budaya Andronovo; paling awal kereta yang ditarik kuda Andronovo ditemukan di situs-situs dalam Sintashta-Petrovka budaya daerah dekat Pegunungan Ural dan tanggal untuk ca. 2000 BCE. [ 37 ] 2000 SM. [37]

Yajurveda

Yajurveda Samhita terdiri dari mantra prosa kuno dan juga di sebagian ayat-ayat yang dipinjam dan diadaptasi dari Rgveda. Tujuan praktis, di mana setiap mantra harus menemani tindakan dalam kurban tetapi, tidak seperti Samaveda, itu disusun untuk berlaku untuk semua upacara pengorbanan, bukan sekadarAda dua kelompok utama recensions Veda ini, yang dikenal sebagai “Black” (Krishna) dan “White” (Shukla) Yajurveda (Kresna dan Yajurveda Shukla masing-masing). Sementara memisahkan White Yajurveda Samhita dari Brahmana (yang Shatapatha Brahmana), Yajurveda Hitam bertahan empat recensions utama (Maitrayani, Katha, Kapisthala-Katha, Taittirīya).

Samaveda

Samaveda Samhita (dari Saman, istilah untuk diterapkan pada dangding melodi himne atau lagu pujian [38]) terdiri dari 1549 bait, diambil hampir seluruhnya (kecuali untuk 78 bait) dari Rgveda. [39] Seperti bait di Rigvedic yang Yajurveda, yang Samans telah diubah dan disesuaikan untuk digunakan dalam menyanyi. Beberapa ayat-ayat Rigvedic diulang lebih dari sekaliTermasuk pengulangan, ada total berjumlah 1875 ayat dalam recension Samaveda diterjemahkan oleh Griffith. [40] Dua recensions utama tetap hari ini, Kauthuma / Ranayaniya dan Jaiminiya. Its purpose was liturgical, as the repertoire of the udgātṛ or “singer” priests who took part in the sacrifice. Tujuannya liturgis, sebagai repertoar dari udgātṛ atau “penyanyi” imam yang mengambil bagian dalam pengorbanan.

Atharvaveda

The Artharvaveda Samhita adalah teks ‘milik Atharvan dan Angirasa penyair. Ini memiliki 760 himne, dan sekitar 160 dari himne berada di Common dengan Rgveda. [41] Sebagian besar ayat-ayat dangding, tapi beberapa bagian yang dalam prosa. [42] Hal ini dikompilasi sekitar 900 SM, walaupun beberapa dari bahan dapat kembali ke masa Rgweda, [43] dan beberapa bagian Atharva-Veda yang lebih tua dari Rig-Veda [44] meskipun tidak dalam bentuk linguistik. . Yang Atharvanaveda terpelihara dalam dua recensions, yang Paippalāda dan Śaunaka. [45] Menurut Apte itu memiliki sembilan sekolah (shakhas). [46] The Paippalada teks, yang ada di Kashmir dan sebuah versi Orissa, berarti lebih besar dari satu Saunaka melainkan hanya sebagian dicetak dalam dua versi dan sebagian besar masih diterjemah. Tidak seperti tiga lainnya Veda, yang Atharvanaveda memiliki sedikit hubungan dengan pengorbanan. [47] [48] Its Bagian pertama terutama terdiri dari mantra-mantra dan mantra-mantra, berkaitan dengan perlindungan terhadap setan dan bencana, mantra untuk penyembuhan penyakit, untuk hidup yang panjang dan untuk berbagai keinginan atau tujuan dalam hidup. [49] [50] Bagian kedua berisi teks himne spekulatif dan filosofis. [51] The Atharvaveda adalah relatif terlambat perpanjangan dari “Tiga Veda” terhubung ke imamat pengorbanan ke kanon “Empat Veda”. Hal ini dapat dihubungkan ke perpanjangan dari ritus kurban dari melibatkan tiga jenis imam untuk dimasukkannya Brahman mengawasi ritual. [52] Enam mata pelajaran dari Wedangga adalah:

• Fonetik (siksa)

• Ritual ( Kalpa ) Ritual (Kalpa)

• Tata Bahasa (Vyakarana)

• Etimologi (Nirukta)

• Meter (Chanda)

• Astronomi (Jyotisha)

TRIPITAKA

tripitaka (Sansekerta; Devanagari:; lit. Tiga keranjang) adalah istilah Sansekerta yang digunakan oleh Barat untuk kanon kitab suci Buddha Asian Buddhis dari Theravada sekolah Buddhis menggunakan istilah Tipitaka untuk merujuk pada Pali Canon. Sarjana besar India Rahul Sankrityayan disebut sebagai Tripitakacharya dalam sejarah Buddhisme karena ia orang yang telah menguasai semua tiga Pitaka atau Kanon Kudus Buddhisme. Sekolah-sekolah Buddhis lain menggunakan istilah lain untuk koleksi mereka sendiri kitab suci, seperti Kangyur (Buddha Tibet) dan大藏经Zàng Da Jing (Buddhisme Mahayana Timur Jauh). Masing-masing Sekolah Buddhis awal telah recension mereka sendiri dari Tripitaka, yang terutama berbeda tentang masalah Abhidhamma. Dalam hal Vinaya dan Sutra, isinya sangat mirip. Tripitaka tulisan-tulisan dari beberapa atau semua Buddha Awal Sekolah, yang awalnya menghafal dan membacakan secara lisan oleh murid-murid, jatuh ke dalam tiga kategori umum dan secara tradisional diklasifikasikan dalam tiga keranjang (tri-Pitaka).. Berikut ini adalah perintah yang paling umum. Kategori pertama, yang Vinaya Piṭaka, adalah kode etik yang harus ditaati oleh awal Sangha, biarawan dan biarawati. Menurut rekening alkitabiah, ini diciptakan dari hari ke hari sebagai Buddha perilaku menghadapi berbagai masalah dengan para biarawan. Kategori kedua, yang Hanuman Chalisa Pitaka (literally “basket of threads”, Pali: Sutta Pitaka), terutama terdiri dari rekening dari ajaran Buddha. Hanuman Chalisa Pitaka yang memiliki banyak subdivisi: itu berisi lebih dari 10.000 Sutra. . Kategori ketiga adalah Abhidharma Pitaka. Hal ini diterapkan pada koleksi sangat berbeda dalam versi yang berbeda dari Tripitaka.. Dalam Kanon Pali Theravada ada Abhidhamma Pitaka yang terdiri dari tujuh buku. Sebuah Pitaka Abhidharma dari sekolah Sarvāstivāda bertahan, juga dalam tujuh buku, enam di Cina dan satu lagi di Tibet Ini adalah buku yang berbeda dari bahasa Pali yang meskipun ada beberapa materi umum dan ide.. Pekerjaan lain yang masih hidup di Cina, Śāriputrābhidharmaśāstra, dapat semua atau bagian dari Pitaka Abhidharma lain. Setidaknya lain sekolah awal Buddhisme telah Abhidharma Piṭakas, yang sekarang hilang. Menurut beberapa sumber, beberapa sekolah awal Buddhisme telah lima atau tujuh pitakas. [2] Menurut sebagian ulama, beberapa sekolah awal Buddhisme tidak Abhidharma. • Tipitaka (Pali Canon) dari Theravada sekolah. • Tripitaka terpelihara di Timur tradisi Mahayana Asia (cina Terjemahan): 1. Āgamas berisi Madhyama Agama (sesuai dengan Pali Nikaya Majjhima) dan Saṃyukta Agama (sesuai dengan Saṃyutta Pali Nikaya) dari Sārvāstivāda.. Ada juga yang tidak lengkap terjemahan Cina Agama Saṃyukta dari sekolah. Suatu perbandingan dari Sarvāstivādin, Kāśyapīya, dan Theravadin Saṃyukta Agama / Saṃyutta Nikaya mengungkapkan teks-teks yang cukup konsistensi konten, meskipun masing-masing berisi recension tidak ditemukan dalam teks-teks yang lain. Madhyama dari sekolah Sarvāstivāda mengandung 222 sutra, kontras dengan 152 sutta di Majjhima Nikaya Pali. 2. The Āgamas berisi Dīrgha Agama (sesuai dengan Pali Digha Nikaya) yang (mungkin) yang Dharmaguptaka. 30 sutra ini berisi kontras dengan 34 sutta dari Digha Nikaya Theravadin. 3. Āgamas berisi Ekottara Agama (sesuai dengan Anguttara Nikaya Pali) dianggap baik dari Mahāsaṅghika atau Sarvāstivādin kanon. 4. Vinaya Piṭakas dari Sārvāstivāda, Mahāsaṅghika, Dharmaguptaka, Mahīśāsaka. 5. Mahayana Sutra dan beberapa Buddha Tantra • Kangyur dari tradisi Buddha Tibet, yang berisi (dalam bahasa Tibet terjemahan): 1. The Mūlasārvāstivādin Vinaya Piṭaka, 2. bagian dari Saṃyukta, Madhyama, dan Dīrgha Āgamas dari Sarvāstivādin recension (semua dalam bagian kelima Kangyur), 3. Mahayana Sutra dan Tantra juga dimasukkan dalam terjemahan, bersama dengan beberapa teks Sansekerta yang masih hidup. • Yang Gandhara teks Buddhis berisi beberapa buku dan fragmen dari Tipitaka dari (mungkin) yang Dharmaguptaka sekolah. • The Gilgit Naskah berisi teks dan vinaya Āgamas terutama dari Mulasarvastivada, bersama dengan teks-teks Mahayana. [5] [6]

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kadaharan Urang Sunda

Februari 12, 2010 at 4:08 am (Tugas)

Cilok

Cilok atanapi aci dicolok nyaéta kadaharan asli ti Sunda. Dijieunna tina tipung aci wungkul atanapi dicampur sareng tarigu teras dicampur cai tuluy dikulub. Jang nambah kanu rasa, umumna adonanna ditambahan bungbu, bisa ogé uyah hungkul.

Aya deui istilah anyar cilok gaul, nyaeta cilok anu aya eusina. Eusina bisa rupi-rupi, misalna: abon, sosis, gajih, urat, endog puyuh, jeung sajabana.

Cilok biasa didahar jeung sambel kacang sareng kécap.

Ciréng

Ciréng kapondokan tina aci digoréng, nyaéta kadaharan nu ilahar di Sunda, dijieun tina aci sampeu, dibungbuan, tuluy digoréng.

Resép cireng

Bahan:

Cara nyieun

Aduk tipung jeung cai, pedes, jeung uyah nepi ka rata. Tambihan ku bahan sejenna, galokeun sing rata. Goréng saséndok saséndok nepi koneng jeung garing. Angkat.

Kanggo 10 sikieun.

Comro

Comro atawa combro nyaéta kadaharan has ti Jawa Kulon. Comro dijieun tina parudan sampeu anu dibentuk buleud atawa lonjong anu bagian jerona dieusian sambel oncom nu saterusna digoréng, mangkana kadaharan ieu dingaranan comro anu mangrupa singketan tina oncom di jero. Kadaharan ieu leiwih ngeunah lamun didahar waktu haneut kénéh.

Misro

Misro nyaéta kadaharan has ti Jawa Kulon. Misro dijieun tina parudan sampeu anu dibentuk lonjong sarta bagian jerona dieusian gula beureum nu saterusna digoréng, alatan éta pisan dingaranan Misro anu mangrupa singketan tina amis di jero (basa Sunda). Kadaharan ieu leuwih ngeunah lamun didahar mangsa masih kénéh haneut.

Jéngkol

Jéngkol (Archidendron pauciflorum, sinonim: A. jiringa, Pithecellobium jiringa, sarta P. lobatum) nyaéta tutuwuhan has di wewengkon Asia Tenggara. Sikina dipikaresep di Malaysia, Thailand, jeung Indonésia keur bahan kadaharan. Buahna mangrupakeun peuteuy sarta bentukna gepéng meulit ngabentuk spiral, boga warna layung kolot. Siki jéngkol boga kulit ari nu ipis jeung warnana coklat ngagurilap. Jéngkol bisa ngabalukarkeun bau nu teu ngeunah dina cikiih sanggeus dikokolakeun sarta diprosés ku peujit, utamana lamun didahar atah.

Jéngkol dipikanyaho bisa nyingkahan diabétes sarta alus pikeun kaséhatan jantung. Tangkal jéngkol dianggap ogé miboga kamampuh nu hadé pikeun nyerep cai taneuh sahingga méré mangpaat dina konsérvasi cai di hiji tempat.

Pamangpaatan

Siki jéngkol biasa didahar atah atawa dikokolakeun (biasana disemur, sarta dipikawanoh ku urang Sunda minangka ati maung atawa “ati macan”). Sikina beyé sarta hipu. Tékstur ieu pisan anu ngajadikeun jéngkol dipikaresep.

Sajaba disemur, siki jéngkol ogé bisa dijieun jadi kiripik kawas emping nu dijieun tina tangkil, ku cara ditutu/digencét nepi ka gepéng, digaringkeun sarta digoréng maké minyak panas.

Akibat goréng tina bauna sabenerna bisa dikurangan ku cara dikeueum atawa dikulub.

Jéngkol jeung gangguan kaséhatan

Sajaba bau, jéngkol bisa ngaganggu kaséhatan hiji jalma alatan konsumsi nu kaleuleuwihi nu ngabalukarkeun numpukna kristal dina saluran cikiih, anu disebut “jéngkoleun”. Jéngkoleun kajadian alatan jéngkol ngandung réa asam jéngkolat sarta hésé puyar dina cai nu PHna haseum. Konsumsi jéngkol nu kaleuleuwihi baris ngabalukarkeun kawangunna kristal sarta ngaganggu kiih.

Koci

Koci nyaéta hiji katuangan nu ilahar kapendak di wewengkn pulo Jawa, didamelna tina ketan nu aya eusian tina parudan kalapa sareng gula beureum atanapi campuran kacang hejo sareng gula beureum, dibungkus daun cau. Di Madiun, Jawa Tmur, koci katelah mbel-mbelan.

Bahan dasar

Bahan dasarna nyaeta adonan ketan sareng gula beureum (kawung) minangka kulitna, minangka eusina tina campuran parudan kalapa sareng gula beureum atanapi campuran sari kacang hejo sareng gula beureum. Ari bungkusna, nyaeta daun cau. Bahan pangleuleueur nyaeta minyak kalapa.

Ngokolakeunana

Ngasakan ieu katuangeun teh ku cara diseupan (make aseupan dina seeng atawa make langseng).

Bentuk jeung rasa

Bentuk koci nyaeta limas (wangun ruang anu sisina opat segi tilu, bagian handapna segi opat. Ari rasana mah rada pacaket sareng papais.

Wanci nyieuna

Ari kapungkur mah koci teh sok dijieun dina waktu bulan puasa nyedek ka boboran Syawal atapi nyedek ka boboran Rayagung, tapi ayeuna mah iraha wae oge sok dijieun.

Kurupuk

Kurupuk (Ind. kerupuk; Ing. crackers) nyaéta salah sahiji jenis kadaharan jajanan (snacks). Najan kitu, di sababaraha wewengkon, utamana di Tatar Sunda, kurupuk biasa dijadikeun batur dahar, boh dahar sangu atawa dahareun “beurat” séjénna (hucap, baso, loték, jrrd.).

Bahan dasar kurupuk biasana sabangsaning tipung nu diadon jeung cai tur bungbu atawa rasa nu dipikahayang nepi ka dalit, diseupan, tuluy ditiiskeun. Bahan satengah jadi ieu tuluy dipotongan atawa dicitak sakumaha bentuk nu dipikahayang (buleud, rungga-renggi, atawa kotak), digaringkeun pikeun engkéna digoréng maké lisah kalapa atawa disangray.

Rupa-rupa kurupuk

Sababaraha jenis kurupuk nu loma aya di Tatar Sunda di antarana:

  • Kurupuk aci: kurupuk pangkawentarna di Tatar Sunda alias kurupuk standar kulantaran murah. Dijieun tina aci sampeu. Biasana bentukna buleud jeung warnana bisa macem-macem sanajan warna panglomana mah bodas. Ieu kurupuk teu pati kuat dina rasa, meureun kulantaran cara nyieunna nu teu ngagunakeun bungbu.
  • Kurupuk kulit (rambak, dorokdok): Kurupuk nu loba dijual di wewengkon Cirebon-Indramayu, dijieun tina kulit sapi. Rasana gurih deukeut ka asin tur boga ciri has sok léngkét na létah bari jeung méré “sensasi” tingbeletok. Puseur industrina aya ogé di Garut.
  • Kurupuk malarat/mlarat: Kurupuk ieu ogé loba dijual di wewengkon Cirebon jeung salah sahiji oleh-oleh dahareun nelah ti Cirebon. Sawatara jelema nyebutkeun yen ngaran kurupuk Mlarat teh diturunkeun ti na kecap “malarat” (melarat; B. Indonesia) nu artina sangsara ku dunya. Bisa jadi ieu teh dihubungkeun ku cara nyieunna nu henteu digoreng ku lisah atawa peletik tapi disangray make keusik panas. Bahan dasar kurupuk ieu sarua jeung kurupuk sejen nyaeta aci. Nu ngabedakeun krupuk ieu dina ngasakeunna nu henteu digoreng make minyak tapi disangray dina keusik panas. Biasana bungbu karek dibalurkeun sabada kurupuk asak. Warna nu loma beureum, bodas, jeung konéng. Di daerah asalna, sabungkus kurupuk mlarat diregaan 3.000-3.500 rupiah.
  • Kurupuk bondon: warnana beuruem lada tapi kacida nikmatna.
  • Kurupuk hurang: dijieun make bahan dasar hurang
  • Kurupuk jéngkol: dijieun make bahan dasar jengkol
  • Kurupuk géndar: dijieun make bahan dasar gendar
  • Kurupuk solondok: dijieun tina bahan dasar sampeu, rasana aya nu asin semu amis, aya nu lada. Séntra produksina loba di daérah Kabupatén Magelang, ari nu ngicalna mah di Bandung ogé seueur.

Kurupuk lianna

Sababaraha kadaharan ieu bisa digolongkeun kana golongan kurupuk, sok sanajan sabagean di antarana kadang-kadang disebut kiripik atawa cukup diistilahkeun gogoréngan.

Oncom

Oncom nyaéta kadaharan tina kacang anu di-fermentasi-keun. Oncom mangrupakeun kadaharan has rahayat di Indonésia. Loba kamonésan tina oncom, diantarana oncom bisa jadi deungeun sangu ku jalan dipais, dibobotok, digoréng biasa, atawa dipasak jeung leunca. Oncom bisa oge dikokolakeun jadi kiripik oncom.

Jenis oncom

Sacara garis badag, oncom aya dua rupa, nyaéta:

Kandungan gizi

Sanajan bahan-bahan oncom mangrupakeun panyesaan, tapi tina segi gizi mah masih keneh padet ku gizi, nu matak kacida nyaahna lamun heug dipiceun atawa ukur dibikeun ka ingon-ingon teh.

Bahan baku sejenna nu diperlukeun nalika nyieun oncom nyaeta kapang. Kapang oncom bisa ngaluarkeun enzim lipase jeung protease nu aktip salila proses fermentasi tur nyekel peranan penting dina nguraikeun pati jadi gula, nguraikeun bahan-bahan pinding sél kacang, nguraikeun lemak, sarta ngawangun alkohol saeutik tur mangrupa-rupa éster nu bauna sedep.

Loba jalma nu kurang ngahargaan oncom tibatan hasil ngokolakeun kakacangan lianna, saperti tahu atawa témpé. Hal ieu teh alatan oncom dijieunna tina hampas tahu atawa suuk. Padahal, sabenerna mah oncom miboga ajén jeung kualitas gizi nu alus minangka hasil tina proses fermentasi. Lamun dibandingkeun, oncom bungkil suuk mibanda protein, lemak jeung padetan nu ngaleyur leuwih loba tibatan oncom hampas tahu.

Ku ayana proses fermentasi, struktur kimia bahan-bahannu tadina kompleks, bakal kaurai jadi senyawa-senyawa nu leuwih basajan sahingga leuwih gampang dicerna jeung dimangpaatkeun ku awak manusa. Proses fermentasi ku kapang oge ngahasilkeun rasa nu dipikaresep ku konsumen.

Kagunaan sejen

Proses fermentasi ku kapang Neurospora sitophila jeung Rhizopus oligosporus geus kabuktian bisa nyegah efek flatulensi (kembung beuteung) sabab salila proses fermentasi, kapang bakal ngahasilkeun enzim alpha-galaktosidase nu bisa nguraikeun raffinosa jeung stakhiosa kadele nepi ka hambalan nu kacida handapna, nu alus keur nyegah dibentukna gas.

Nalika nyieun oncom, kaberesihan proses nyieunna diperlukeun keur nyegah mecenghulna mikroba-mikroba sejen, utamana kapang Apergillus flavus nu bisa mroduksi aflatoksin. Tapi, aflatoksin nu mangrupakeun racun, bisa diteken ku Neurospora sitophila jeung Rhizopus oligosporus. Aflaktosin ilahar mucunghul lamun bahan kakacangan mutuna goreng, ku kituna dina nyieun oncom diperlukeun mutu bahan nu hade.

Sambel

Sambel mangrupakeun deungeun/réncang sangu tradisional masarakat Malayu (kayaning di Indonésia, Malaysia, Singapura) dina wujud kawas saos anu eusina salawasna maké céngék atawa cabé, sahingga rasana condong kana lada. Bentuk saos ieu dihasilkeun tina cara nyieunna, nyaéta ku jalan diréndos dina coét, maké mutu.

Rupa-rupa sambel

Gumantung kana bahan jeung cara nyieunna, nya sambel téh aya sababaraha rupa. Di masarakat Sunda, aya sababaraha rupa sambel, di antarana

  • sambel goang: bahanna ukur céngék, uyah, jeung surawung, diréndos terus digalokeun kana sangu atawa dicoél ku kacang panjang atah (kumaha karesep), atawa uyah, kécap, minyak jalantah, cabé beureum jeung bawang bodas diréndos tong lembut teuing.
  • sambel oncom: oncom (beunang meuleum), céngék, beuleum bawang beureum, uyah, gula, cikur (lamun resep), jeung tomat dihijikeun terus diréndos, dicaian saeutik, terus digoréng sakeudeung (teu digoreng oge teu nanaon, kumaha karesep), lalabna cukup ku seupan daun sampeu/gedang, peuteuy, jéngkol jrrd.
  • sambel tarasi: tarasi, gula, uyah (saeutik), céngék, tomat, bawang beureum; sakabeh bahan digoréng heula iwal gula jeung uyah, sanggeus kira-kira asak terus diréndos dihijikeun sakabéh bahan dina coét, saterusna digoréng sakeudeung. Lalabna bisa seupan daun sampeu atawa lalab atah oge bisa (takokak, jrrd.)
  • sambel muncang: muncang nu kolot (dibeuleum heula), céngék, uyah, gula; muncang beunang meuleum dihijikeun jeung bungbu nu séjénna terus diréndos dina coét (caian saeutik) ; lalabna jéngkol ngora jrrd.
  • sambel jahé: jahé, uyah, gula, céngék; jahé diteukteukan laleutik terus diréndos dihijikeun jeung bungbu nu lianna, sanggeus réngsé kécapan sacukupna (lamun resep) terus galokeun jeung lauk beunang meuleum.
  • sambel buah: buah manggah ngora diparud (sikina mah piceun baé), lajeng cabé beureum, tarasi, céngék, gula, uyah beureum diréndos, saparantosna campurkeun jeung parudan manggah téa, aduk nepi ka rata, biasana baturna jeung beuleum lauk.
  • sambel kécap: céngék diréndos terus dikécapan.
  • sambel kacang: suuk beunang ngagoréng diréndos jeung uyah, gula beureum, bawang bodas, cikur, jeung céngék.
  • sambel picung: picung kelewek (picung sok dikubur heula dina taneuh), uyah, gula, céngék (kahade kudu rada ati-ati bisi picungna aya racunan, mun bisa mah diléob heula ku cai haneut).
  • sambel goréng: bawang bombay disiksik lajeng digoréng nepi ka konéng, tambahkeun céngék jeung bawang bodas beunang ngaréndos, gula bodas, kécap asin, jeung udang ebi (beunang ngeueum ku cai panas) nepi ka seungit.
  • sambel tomat:
  • sambel cibiuk: aya dua rupa, sambel beureum jeung sambel héjo. Sambel beureum dijieun tina tomat beureum, cabé beureum, surawung, gula, uyah, bawang bodas, bawang beureum, jeung cikur, sedengkeun sambel héjo maké tomat jeung cabé héjo. Ieu sambel diréndosna tara nepi ka lembut, sapuratina asal nyampur.

Tahu Sumedang

Tahu Sumedang nyaéta tahu nu asalna ti Sumedang, Jawa Kulon. Tahu ieu biasana digoréng nepi ka rada garing, semu coklat, tur asin. Cocog lamun didahar jeung lontong. Sanajan asalna ti Sumedang, tahu ieu kiwari geus loba dijieun di wewengkon lianna di Indonésia.

Sajarah Tahu Sumedang

Tumuwuh jeung nanjeurna industri tahu di Sumedang, teu leupas tina peran para warga katurunan anu kacatet dina sajarah salaku lulugu tukang nyieun tahu anu dibawa ti nagri maranéhna. Upamana baé lulugu tukang nyieun tahu Sumedang nyaéta Ongkino, Bungkeng, Ong You Kim (Ukim), Ko Aniw, Ko Lento, Ko Jung Gong, jeung Babah Hek. Mangka teu heran kadaharan asal nagri wide (pinding awi) teh dingaranan Tou Fu.

Cenah mah, tahu Sumedang téh dimimitian tina kréativitas nu dipimilik ku bojona Ongkino, nu ti awal mula mangrupakeun nu boga pokal pikeun nyieun Tou Fu Cina anu lambat laun ganti ngaran jadi “Tahu”. Mangtaun-taun, Ongkino jeung bojona terus ngulik usaha maranéhna. Nepikeun ka kurang leuwih taun 1917, anak manéhna hiji-hijina Ong Bung Keng nyusul ka tanah Sumedang. Bung Keng terus neruskeun usaha kadua kolotna nepikeun kaduana milih balik deui ka nagri asalna di Hokian, Cina.

Ngaliwatan alih generasi, Ong Bung Keng, anak tunggal Ongkino, tuluy neruskeun usaha anu diwariskeun ti dua kolotna nepi ka maotna di yuswa 92 warsih. Di balik kahotna Tahu Sumedang aya ogé carita anu rada mistik, kawas naon anu dicaritakeun ku incu ti Ongkino, Suryadi. Kira-kira dina warsih 1928, cenah hiji poé tempat usaha sang aki buyutnya, Ong Bung Keng, didatangan ku Bupati Sumedang, Pangeran Soeria Atmadja anu pareng ngaliwat numpak dokar dina lalampahan nuju ka Situraja.

Sabot nempo si aki ngagoréng tahu, jol aya kapanasaran, kadaharan naon anu keur dijieun si aki. Sajaba bentukna anu unik, aroma pasakanna ogé ngondang anjeunna anu geura-giru turun ti tutumpakanana pikeun menyapa akina anu uplek ngagoréng.

“Maneh keur ngagoréng naon?” tanya bupati ka si aki.

Ngadéngé patarosan éta, Ong Bung Kéng ogé némbalan bari usaha ngécéskeun sebisanya. Yén manéhna téh keur ngagoréng kadaharan anu dipikawanoh di taneuh kalahiranana ngaranna Tou Fu Cina. Kutan, guaran éta, beuki nyieun geremet Pangeran Soeria Atmadja, anu saterusna mecakan ngasaan kadaharan anu kakara mimiti manéhna temui.

Réngsé ngasaan, ujug-ujug Bung Kéng kungsi reuwas ku reaksi pangéran, anu sacara spontan ngungkabkeun kecap-kecap, “Ngeunah geuning tahu téh. Lamun manéh terus ngajual dagangan maneh bakal payu” kedalna bari beungeut pinu ku rasa seubeuh.

Ti kajadian poé éta, lalaunan tapi pasti komara Tou Fu Cina anu henteu ngahaja robah ngaran jadi Tahu Sumedang, alatan omongan pangéran beuki naék. Sumawona, carita datangna sang pangeran gancang sumebar ka sakumna penjuru Dayeuh Sumedang.

Cacak rada mistis, diaku Suryadi, kitu pisan kanyataan. Alatan omongan sang pangéran, ujug-ujug Tahu Sumedang robah jadi hiji kadaharan anu henteu kungsi dipiboga ku wewengkon séjénna.

Ranginang

Rangginang (atawa raginang, ranginang, Basa Indonésia:rengginang, rengginan) mangrupakeun kadaharan nu kasohor di Indonésia. Teu sirikna di unggal wewengkon, utamana di Pulo Jawa, miboga kamonésan ranginang gumantung wewengkonna asing-masing.

Kagunaan rangginang

Rangginang bisa didahar langsung, minangka susuguh keur sémah boh di imah atawa dinu kariaan, atawa bisa oge keur deungeun sangu. Keur didahar langsung, cocog lamun rangginang didahar jeung cikopi.

Rupa-rupa rangginang

  • Dumasar rasana, rangginang aya nu asin jeung amis. Nu pangilaharna mah rangginang asin.
  • Dumasar bentukna, wangun rangginang tiasa rupi-rupi, gumantung citakannana, tiasa buleud atanapi kotak, kadang-kadang henteu dicitak ku citakan, mung diréka-réka ku panangan waé.
  • Dumasar ukurannana, henteu aya babagian ranginang nu pasti dumasar kana ukurannana, tapi rangginang bisa variatif ti ukuran pangleutikna nu diameterna kurang leuwih 3 senti, nepikeun ka rangginang-rangginang gede nu leuwih ti sapuluh senti.
  • Dumasar nu nyieunna, rangginang bisa dibagi jadi rangginang jieunan sorangan (biasana ibu-ibu di imah sorangan keur nyuguhan semah atawa kadaharan sapopoe, nyieunna make parabotan saayana, citakannana kadang-kadang ukur dijieun tina awi), sarta rangginang jieunan pabrik(kiwari pabrik rangginang loba di mana-mana kalayan make citakan nu leuwih hade)

Bahan ranginang

Ranginang dijieun tina béas ketan anu diseupan sareng dibungbuan. Bungbuna bisa rupa-rupa gumantung kana rasa nu dipikaresep. Pikeun ranginang asin, uyah, bawang bodas jeung sajabana tangtu dibutuhkeun. Kadang-kadang ditambahan tarasi. Keur raginang amis, tangtu kudu make gula.

Cara ngadamel rangginang

Kanggo ngadamel rangginang, beas ketan diseupan sareng dibungbuan. Saparantosna cekap asakna (teu kenging asak teuing), ketan nu tos pagalo sareng bungbu teras dicitak, didaraykeun dina nyiru, ayakan atanapi rupi-rupi anyaman anu tiasa dianggo kanggo moe. Lajeng rangginang dipoé dugikeun ka garing. Saparantosna garing, rangginang atah digoréng.

Bajigur

Bajigur nyaeta salah sahiji inuman ti Sunda atanapi wewengkondaerah Jawa Barat. Bahan utamina nyeta kopi, gula aren, jeung santan kalapa. Keur nambah kanikmatan dicampurkeun oge uyah sarng bubuk vanili sacukupna.

Inuman ieu disayagikeun panas keneh nu biasa diical ngangge gorobak disadiakeun oge komporna pikeun naheur. Bajigur cocok diinum keur cuaca tiris atanapi saenggeus hujan. Tuangeun nu sering disayogikeun sareng bajigur sapertos kulub pisang, kulub hui, atanapi kulub kacang taneuh.

Bandrek

Bandrek sami sareng bajigur mangrupi inuman tradisional orang Sunda ti Jawa Barat. Inuman  ieu cocok disayagikeun nuju keur tiris, sapertos nuju hujan atanapi peuting-peuting. Bahan dasarna nu paling penting nyaeta salah sahijina mangrupa jahe jeung gula beureum, tapi di daerah-daerah sejan ditambahkeun rempah-rempah supados karasa haneutna leuwih manjur, sapertos sereh, pedes, pandan, endog hayam kampung, jeung sajabana. Susu bisa oge ditambihkeun, tergantung salera. Seeur nu percanten yen bandrek aya khasiatna keur ngubaran panyakit ringan sapertos nyeri tikoro. Aya oge bandrek nu husus pikeun keur urang dewasa kusabab efek panasna.

Permalink 2 Komentar

Diam ,,, tapi bisa kemana-mana

Januari 29, 2010 at 1:10 pm (Sekedar Tulisan)

Sudah hampir setahun lebih, baru ku posting lagi tulisan lewat blog ku ini yang semakin tak terurus. Maklum kerja tiap hari tanpa ada jeda sedikitpun untuk bersantai-santai ria. Dari pagi sampai malam sibuk dengan rutinitas keseharian yang tidak memungkinkan diriku untuk bersosialisasi di luar.

Semenjak situs fesbuk membooming seperti sekarang, hari-hariku tidak terlalu kelabu, ada warna-warni kehidupan diluar, yang dapat ku gengam dan kunikmati tanpa rasa hambar sekalipun. Saling berinteraksi dengan kawan-kawan lama, kawan-kawan baru, kerabat jauh maupun kerabat dekat yang tidak mungkin dicapai dengan laku fisik sejatinya.

Thank’s to Mark Zuckerberg!!

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Selamat Tahun Baru 2009

Januari 1, 2009 at 8:44 am (Sekedar Tulisan)

Awal tahun baru yang kurang bersinar, matahari pagi tertutup mendung kelabu, semenjak malam saya tidak bisa merayakannya, langsung tidur merasa badan belum fit benar.  Sebabnya, di akhir bulan desember ini kesehatanku ngedrop, sakit hampir seminggu lebih.  Entah mengapa tahun baru ini serasa enggan untuk dirayakan. Biasanya setiap pergantian tahun sebelumnya setidaknya bisa melihat kemeriahan malam tahun baru dengan pesta kembang api yang semarak, atau naik gunung untuk melihat awal terbitnya matahari di puncak gunung.

Selamat Tahun Baru 2009!!!

desert-sunset

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Oktober 11, 2007 at 3:21 pm (Sekedar Tulisan)

Hilal

Hilal adalah penampakan bulan dengan mata telanjang yang paling awal terlihat menghadap bumi setelah bulan mengalami konjungsi.

Hilal merupakan kriteria hisab suatu awal bulan. Setiap awal bulan selalu ditandai dengan munculnya hilal.

Penentuan Hilal Syawal

Penentuan hilal bulan syawal adalah salah satu aktivitas penting yang dilakukan lembaga hisab untuk menentukan hari terakhir pada bulan Ramadhan. Hal ini akan menentukan kapan ummat muslim terakhir melakukan puasa dan merayakan Idul Fitri. Metode penentuan hilal yang biasa dilakukan ada dua macam yakni metode Rukyat dan Hisab.

Rukyah

Metode pandangan mata

Hisab

Metode perhitungan matematik astronomi

Hisab dan rukyat

Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi Bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada Kalender Hijriyah.

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (Bulan Baru). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah.

Perlu diketahui bahwa dalam Kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya Matahari waktu setempat, dan penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) Bulan (satelit). Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 hari atau 30 hari.

 

Hisab

Secara harfiyah bermakna ‘perhitungan’. Di dunia Islam istilah ‘hisab’ sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Pentingnya penentuan posisi matahari karena umat Islam untuk ibadah shalatnya menggunakan posisi matahari sebagai patokannya. Sedangkan penentuan posisi bulan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam Kalender Hijriyah. Ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat orang mulai berpuasa, awal Syawwal saat orang mangakhiri puasa dan merayakan Idul Fithri, serta awal Dzul-Hijjah saat orang akan wukuf haji di Arafah (9 Dzul-Hijjah) dan ber-Idul Adha (10 Dzul-Hijjah). Dalam al-Qur’an surat Yunus (10) ayat 5 dikatakan bahwa Tuhan memang sengaja menjadikan matahari dan bulan sebagai alat menghitung tahun dan perhitungan lainnya. Juga dalam Surat Ar Rahman (55) ayat 5 disebutkan bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Karena ibadah-ibadah dalam Islam terkait langsung dengan posisi benda-benda astronomis (khususnya matahari dan bulan) maka umat Islam sudah sejak awal mula muncul peradaban Islam menaruh perhatian besar terhadapa ilmu astronomi (disebut ilmu falak). Salah satu astronom Muslim ternama yang telah mengembangkan metode Hisab modern adalah Al Biruni (973-1048 M), Ibnu Tariq, Al Kwarizmi, Al Batani, dan Habash.

Dewasa ini, metode hisab telah menggunakan komputer dengan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi dan akurat. Berbagai perangkat lunak (software) yang praktis juga telah ada. Hisab seringkali digunakan sebelum melakukan rukyat (pengamatan). Salah satu output hisab adalah penentuan kapan waktu ijtimak yaitu saat matahari, bulan, dan bumi berada dalam posisi sebidang, atau disebut pula konjungsi geosentris, yakni peristiwa dimana Matahari dan Bulan berada di posisi bujur langit yang sama jika diamati dari bumi. Ijtimak (dari Bulan Baru ke Bulan Baru berikutnya) terjadi setiap 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu periode sinodik.

Rukyat

 

Salah satu contoh hasil pengamatan kedudukan hilal

 

Salah satu contoh hasil pengamatan kedudukan hilal

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.

Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1.

Namun demikian, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah/teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya Bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan “cahaya langit” sekitarnya. Kriteria Danjon (1932, 1936) menyebutkan bahwa hilal dapat terlihat tanpa alat bantu jika minimal jarak sudut (arc of light) antara Bulan-Matahari sebesar 8 derajat.

Dewasa ini rukyat juga dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih seperti teleskop yang dilengkapi CCD Imaging.

Kriteria Penentuan Awal Bulan Kalender Hijriyah

Penentuan awal bulan menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah dalam agama Islam, seperti bulan Ramadhan (yakni umat Islam menjalankan puasa ramadan sebulan penuh), Syawal (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri), serta Dzulhijjah (dimana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha).

Sebagian umat Islam berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan, adalah harus dengan benar-benar melakukan pengamatan hilal secara langsung. Sebagian yang lain berpendapat bahwa penentuan awal bulan cukup dengan melakukan hisab (perhitungan matematis/astronomis), tanpa harus benar-benar mengamati hilal. Keduanya mengklaim memiliki dasar yang kuat.

Berikut adalah beberapa kriteria yang digunakan sebagai penentuan awal bulan pada Kalender Hijriyah, khususnya di Indonesia:

Rukyatul Hilal

Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad:

Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)”.

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah.

Wujudul Hilal

Wujudul Hilal (juga disebut ijtimak qoblal qurub) adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan prinsip: Jika pada setelah terjadi ijtimak (konjungsi), Bulan terbenam setelah terbenamnya matahari, maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam.

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah dan Persis dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Hisab Wujudul Hilal bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak, akan tetapi dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus jadi bukti bahwa Bulan (kalender) baru sudah masuk atau belum.

Imkanur Rukyat MABIMS

Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip:

Awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:

  • Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
  • Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.

Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari.

Di samping metode Imkanur Rukyat di atas, juga terdapat kriteria lainnya yang serupa, dengan besaran sudut/angka minimum yang berbeda.

Rukyat Global

Rukyat Global adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang menganut prinsip bahwa: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya.

Perbedaan Kriteria

Metode penentuan kriteria penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri.

Di Indonesia, perbedaan tersebut pernah terjadi beberapa kali. Pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari raya Jum’at (3 April) mengikuti Arab Saudi, yang yang Sabtu (4 April) sesuai hasil rukyat NU, dan ada pula yang Minggu (5 April) mendasarkan pada Imkanur Rukyat. Penetapan awal Syawal juga pernah mengalami perbedaan pendapat pada tahun 1993 dan 1994. Namun demikian, Pemerintah Indonesia mengkampanyekan bahwa perbedaan tersebut hendaknya tidak dijadikan persoalan, tergantung pada keyakinan dan kemantapan masing-masing, serta mengedepankan toleransi terhadap suatu perbedaan.

Disarikan dari wikipedia, indonesia

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Just Write

September 3, 2007 at 4:33 am (Sekedar Tulisan)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Permalink 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.